Sabtu, 29 Januari 2011

Foto2 pemandangan Aurora



 

Asking Alexandria - Final Episode (Let's Change Channel)



Oh my God,
oh my God,
if only he knew,
if only he knew,
if only he knew about the world
without the bullshit and the lies.

We could've saved him,
they could've saved me.
But instead I'm here drowning
in my own fucking mind,
and I'll be damned if you're the death of me.

Blood and ink stain the walls,
silently with bloodied knuckles, carry on,
hoping it's not too wrong.
You said the nights were far too long.
Honey, it's just the start of it.

Oh my God,
if he only knew.
Oh my God,
if only he knew,
if only he knew,
if only he knew.
Just stand up and scream,
the tainted clock is counting down.
You gave in to me,
would you say the nights are far too long now?

Oh my God,
(oh my fucking God)
The tears that stain my cheek
must me look weak,
I wear them proudly, I wear them proud.

Just stand up and scream,
the tainted clock is counting down.
You gave in to me,
would you say the nights are far too long now?

Your knife,
my back.
My gun,
your head.

Your knife,
my back.
My gun,
your head.

You need a doctor baby,
you scared?
You need a doctor baby,
you scared?

You need a doctor baby,
you scared?
You need a doctor baby,
you scared, you scared,
you scared, you?

You need a doctor baby,
you scared?

You need a doctor baby,
you scared?
You need a doctor baby,
you need a doctor baby,
you scared?

Gitar Dari Kayu Es krim

Seorang seniman menciptakan sebuah gitar hanya bermodalkan kayu/tangkai bekas es krim, ia menciptakan gitar ini dalam waktu 10 hari. Gitar ini menghabiskan sebanyak 4000 potongan tangkai es krim bekas. Kayu2 bekas es krim tersebut disusun secara rapi dan diatur secara simetris agar dapat menghasilkan suara yang indah dan maksimal. Harga sebuah gitar ini senilai $ 900, harga yang lumayan mahal memang. 

Pertama tama, kayu bekas es krim tersebut disusun secara rapi, dan mengikuti pola yang telah ditentukan.

 
Kemudian ujung dari kayu tersebut dipotong agar terlihat lurus dan rapi

 
Lalu dipasang/ditempelkan sebuah kayu yang dapat menahan semua sisi gitar, agar tidak mudah bergerak dan patah

 
 
Nah, sambil nungguin tuh kayu nempel kuat, sekarang kita buat tumpukan kayu sederhana yang nantinya akan dipasang untuk menahan neck gitar

 
Setelah itu, kita memerlukan lebih banyak lagi kayu bekas tersebut untuk membuat penahan dari segala sisi di gitar, dan kita tempelkan semua kayu tersebut sehingga membentuk susunan seperti ini

 
 
trus kayu2 yg telah dibentuk sebelumnya, akan ditempelkan di belakang gitar dgn dibantu ikatan karet besar (agar menempelnya lebih maksimal)

 
ini udah memasuki tahap akhir, gitar tersebut dipasangi neck (tetapi hanya neck gitar yang tidak dibuat memakai kayu bekas es krim)


Sekarang udah memasuki tahap pernis, neck yang tadinya sudah dipasang harus dilepas dahulu agar memudahkan untuk dipernis (dimengkilapin gan).

 

Burung Sri Lanka Frogmouth

 

Hidup di Southwest India dan Sri Lanka, burung-burung ini adalah makhluk malam hari. Ini tinggal di sebuah hutan tropis yang lebat. Warna bulu tergantung pada apakah pria atau wanita. Betina tampak kemerahan dengan bintik-bintik putih ringan tersebar di seluruh tubuh. Laki-laki berwarna abu-abu dan memerciki padat titik putihBurung-burung ini hanya beberapa burung aneh di alam liar. Namun, ada banyak lagi di luar sana dan jika Anda adalah seorang pengamat burung Anda mungkin dapat beberapa titik dalam perjalanan untuk bekerja. Ada beberapa burung yang dianggap aneh karena wajah mereka atau karena cara mereka berbulu di seluruh tubuh mereka, tetapi beberapa burung dianggap aneh karena warna mereka, yang bagi sebagian pengamat burung dapat lebih indah dan aneh.

Cacing Naga Sepanjang 2,5 Meter

 

Kutipan: Warga Menemukan Cacing Naga Sepanjang 2,5 Meter

KOMPAS.com – Warga di kawasan Tanjung Api-api, Banyuasin, Sumatera Selatan, dihebohkan dengan penemuan cacing nipah sepanjang 2,5 meter. Uniknya lagi, cacing itu punya dua taring besar di kepala.

Karena bentuknya yang unik, warga sekitar menyebut hewan melata itu sebagai cacing naga. Badan cacing naga seukuran jari warna merah ini, sedikit mirip lipan yang punya banyak kaki di sepanjang bagian bawah tubuh. Namun, terlihat dan terasa lebih lunak khas hewan mollusca.

Cacing ini ditemukan oleh Timan. War (26), putra Timan, mengatakan, cacing tersebut ditangkap dengan menggunakan besi yang dibentuk seperti garpu. “Saya tidak ikut karena takut,” kata War, Kamis (27/1/2011).

Timan yang sehari-hari bekerja sebagai pencari cacing tak menyangka mendapat cacing naga sepanjang 2,5 meter.

Rosinta, mahasiswi pascasarjana Universitas Sriwijaya, Palembang yang sedang melakukan survei untuk thesis kajian lingkungan di pelabuhan fery/kargo Tanjung Api-api kaget melihat cacing ini. “Saya baru lihat ada cacing panjang seperti itu,” kata Rosinta.

Mayat Berjalan Di Mamasa

 


Cerita mayat berjalan sudah ada sejak dahulu kala. ratusan tahun yang lalu konon terjadi perang saudara di Tana toraja yakni orang Toraja Barat berperang melawan orang Toraja Timur. dalam peperangan tersebut orang Toraja Barat kalah telak karena sebagian besar dari mereka tewas, tetapi pada saat akan pulang ke kampung mereka seluruh mayat orang Toraja Barat berjalan, sedangkan orang Toraja Timur walaupun hanya sedikit yang tewas tetapi mereka menggotong mayat saudara mereka yang mati, karena kejadian tersebut maka peperangan tersebut dianggap seri. pada keturunan selanjutnya orang-orang Toraja sering menguburkan mayatnya dengan cara mayat tersebut berjalan sendiri ke liang kuburnya.

Fenomena “Mayat berjalan” itu saya sendiri pernah menyaksikannya secara langsung. kejadian tersebut terjadi sekitar tahun 1992 (saya baru kelas 3 SD). pada saat itu di desa saya ada seorang bernama Pongbarrak yang ibunya meninggal. seperti adat orang Toraja sang mayat tidak langsung dikuburkan tetapi masih harus melalui prosesi adat penguburan (rambu solo’). saat itu setelah dimandikan mayat sang ibu diletakkan di tempat tidur dalam sebuah kamar khusus sebelum dimasukkan kedalam peti jenasah. pada malam ketiga seluruh keluarga berkumpul untuk membicarakan bagaimana prosesi pemakaman yang akan dilaksanakan nanti. saat itu saya duduk di teras rumah maklum anak-anak jadi suka mondar mandir. namun setelah rapat selesai (sekitar jam 10 malam), tiba-tiba ada kegaduhan dalam rumah dimana beberapa ibu-ibu berteriak -teriak. karena penasaran saya berusaha melongok ke dalam rumah dan astaga sang mayat berjalan keluar dari dalam kamar, kontan saja saya dan teman2 saya berteriak histeris dan berlari menuruni tangga. saya berlari dan mendapatkan ayah saya sambil histeris ketakutan. setelah itu saya langsung dibawa pulang kerumah oleh ayah dan saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Keesokan harinya kejadian tersebut rupanya cukup heboh diperbincangkan oleh warga dan informasi yang saya dengar bahwa Pongbarrak yang melakukan hal tersebut. konon dia iseng aja untuk membuat lelucon pada malam itu.

Pada zaman sekarang sudah sangat jarang orang Toraja yang mempraktekkan hal tersebut walaupun masih banyak generasi yang memiliki ilmu seperti itu. akan tetapi mereka masih sering mempraktekkannya pada binatang seperti ayam atau kerbau yang diadu dalam keadaan leher terputus. Binatang seperti kerbau yang sudah dipotong kepalanya dan dikuliti habispun, masih bisa dibuat berdiri dan berlari kencang, mengamuk kesana sini

Senin, 24 Januari 2011

Fenomena Crop Circle di Yogyakarta

GB


 GB GB



Sleman - Misteri crop circle di Dusun Rejosari, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DIY, sampai saat ini masih belum terpecahkan. Warga yang menonton lingkaran bermotif itu karya UFO (Unidentified Flying Object), namun ada pula yang yang mempercayai itu karya manusia sebagai bentuk seni instalasi.

Sampai saat ini warga masih silih berganti mendatangi lokasi persawahan di dusun tersebut untuk menonton. Mereka tidak bisa menonton dari dekat atau dari pinggir jalan desa tersebut. Mereka harus menaiki bukit Gunung Suru yang ada di sebelah utara lokasi.

Ketinggian bukit kapur itu lumayan tinggi sekitar 100-an meter yang dipenuhi semak belukar. Untuk menaikinya cukup sulit karena hanya ada jalan setapak yang licin dan berlumpur. Namun hal itu tidak menyurutkan minat ribuan orang yang ingin menonton.

Saat ini jalan desa yang menghubungkan wilayah Desa Srimulyo Piyungan Bantul dengan Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah dan Desa Madurejo di Kecamatan Prambanan Sleman dijaga oleh warga setempat. Orang yang ingin menonton harus mengeluarkan uang untuk membayar parkir maupun sumbangan sukarela. Sejunlah aparat Polsek Berbah dan Koramil Berbah juga berjaga-jaga di sekitar lokasi.

Sumber : Detik.com